Dear, PD. Ku coba mengobati luka ini sendirian. Luka yang begitu deras mengeluarkan darah kesedihan dan kekecewaan. Tidak ada yang peduli. Bahkan rembulan pun tidak muncul sekedar menyapa atau menampakkan diri. Seolah-olah aku ini sebatang pohon mati yang tak berarti lagi. Teronggok, melapuk dan mulai hancur digerus waktu. Ku tatap langit malam dan berbisik"inikah yang kau inginkan?" ku bisikkan sekali lagi sembari mengangkat kedua tanganku. Memperlihatkan sebentuk hati yang sakit. Terluka. Membusuk. Yang bagimu sudah tidak berarti lagi. Ku tatap langitmu. Ku bersimpuh dalam belas kasihanmu... Mengharap setitik perhatianmu.
Namun hanya kesunyian yang sayup-sayup menjawab keluh-kesahku. Hanya dinginnya malam yang membelai mesra setiap goresan luka di hatiku. Beginikah caramu memperlakukan hati yang tulus menyayangimu? Hati yang telah menunjukkan seluruh isinya. Hati yang meyakini bahwa kamulah belahan jiwanya. Hati yang lugu bahwa kamu tidak akan pernah menyakitinya.
Sungguh, aku tidak membencimu. Tak mungkin membenci sesuatu yang sangat aku cintai. Aku tidak tahu cara untuk membencimu. Bahkan bagaimana rasanyapun belum pernah terlintas dalam pikiranku. Yang ku tahu aku lemah karena tulusnya cintaku padamu. Mudah terluka. Walau terkadang kau melakukannya tanpa sengaja. Adakah niat darimu untuk berpaling padaku. Menampakkan cahaya cintamu lagi. Menerangi gelapnya harapan dan sunyinya kesendirian. Sudikah? Masih adakah?
Tampilkan postingan dengan label Public diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Public diary. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Desember 2009
Public Diary-Page 4
Dear, PD. Jawaban dari pertanyaan itu telah terkuak. Kedatangannya begitu cepat, tak terduga seperti hujan meteor yang merobek gelapnya misteri. Jelas sudah. Selesai semua. Tidak ada yang perlu dikonfirmasi. Semuanya sudah masuk akal. Terang benderang. Tidak perlu logika tingkat tinggi untuk memahaminya. Cukup diketahui. Tak perlu disesali. Semua adalah keputusannya. Tugasku hanya memotivasi dan meyakinkan saja. Aku tahu dia termotivasi. Aku yakin dia mempercayai lautan penjelasan yang telah aku tumpahkan. Aku berharap dia mau kembali menjadi dirinya sendiri. Pemberani dan kuat seperti yang aku kenali. Tidak perlu lari seperti ini. Jangan! Jangan kau teruskan. Berhentilah. Ku mohon berhentilah sekarang. Berilah kesempatan kepada hatimu untuk mengatur nafasnya. Biarkanlah pori-pori ketakutanmu mengeluarkan keringat kekhawatirannya. Habis tak bersisa. Tenangkanlah dirimu. Dengarkanlah irama jantungmu sendiri saat memompa sumber-sumber kehidupan. Istirahatkanlah kalbumu. Rebahkanlah semuanya di bawah pohon kedamaian beranting ketentraman yang rindang. Rasakanlah sejuknya udara hikmah. Nikmatilah rasa nyaman dari relaksasi otot-otot batin yg sempat kau paksa berkontraksi kuat. Tenangkanlah dirimu. Pejamkan mata batin prasangkamu. Pejamkanlah. Teruskanlah hingga sayap-sayap relaksasi menerbangkanmu jauh ke alam mimpi. Ke tempat di mana kau dapat menemui akal sehatmu. Sapalah dia, mintalah nasihatnya. Jangan mendebatnya. Tak perlu menyangkal penjelasan kebenaran yang tulus dia berikan. Tentang kebenaran dari semua yang telah aku ungkapkan. Kebenaran tentang apa yang kau rasakan. Dengarkan dia. Dan simpanlah semuanya dalam kotak memori. Tempat bersemayamnya segala cahaya yang dapat menerangimu dalam mengarungi belantara kehidupan. Jadikanlah itu ilmu. Jadikanlah semua itu pelajaran untuk menyikapiku ke depan.
Public Diary-Page 3
Dear, PD. Tahukah kamu sore tadi langitnya berwarna merah jingga. Indah sekali. Sewarna dengan training yang ku pakai setiap kali berolah raga. Sepertinya senyum mentari enggan meninggalkan peraduannya di langit senja. Tak tega meninggalkanku sendirian di bawah naungan malam yang aku benci. Dia tahu, rembulan tidak akan datang untuk ku. Menghiasi langit malamku dengan cahaya harapan. Tentang kebahagiaan.
Dan sekarang diriku terjebak rasa lelah yg menari-nari indah di sekelilingku. Mendendangkan lagu pegal dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Hentikanlah! Pergilah! Carilah tempat lain untuk berpesta. Hah.. Sepertinya pesta ini takkan berhenti hingga pagi. Oh... mentari cepatlah! cepatlah kau kembali.
Dan sekarang diriku terjebak rasa lelah yg menari-nari indah di sekelilingku. Mendendangkan lagu pegal dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Hentikanlah! Pergilah! Carilah tempat lain untuk berpesta. Hah.. Sepertinya pesta ini takkan berhenti hingga pagi. Oh... mentari cepatlah! cepatlah kau kembali.
Public Diary-Page 2
Dear, PD. Sulit tidur. Pikiranku seperti sayap kelelawar yg sedang menjelajahi belantara tanda tanya. Di hadapanku kini muncul pohon pertanyaan baru yang beranting sangat rindang. Dia mengingatkan tentang sebatang ranting yg mengisahkan dekatnya waktu. Oh... Untuk aku kah buah yg menggelayut di setiap pucuk-pucuknya? Apakah rasanya manis, semanis harapan yang menjadi kenyataan? Apakah aromanya tentang kebahagiaan seperti yang aku pikirkan? Apakah tentang... Hentikan! Hentikan! Cukup. Aku sudah terlalu dalam menggali sumur-sumur lamunan ini. Cukup. Semakin dalam aku berandai-andai tentang pertanyaan itu, semakin berat pula usahaku untuk keluar dari lubang pengap yg sarat akan impian kosong itu. Mengapakah tidak tidur saja. Membaringkan tubuh yg mulai layu, menyelimutinya dan memejamkan jendela dunia tanpa prasangka akan cepat-cepat terjaga. Bernafas perlahan. Teratur. Tertidur. Biarkan semuanya terlena dalam obat bius indahnya dunia mimpi beralaskan empuknya kasur
Public Diary Page 1
Dear, PD. Sampai sekarang aku tidak tahu latar belakang dari semuanya. Mengapa dia bersikap begitu padaku? Apa yg menjadi pertimbangannya melakukan itu? Apakah salahku? Ataukah dia sudah berubah? Entahlah. Yang ku tau dia diam dan tak memberiku kesempatan mengetahuinya. Aku perlu tau! Aku harus tau! Tapi bagaimana caranya? Berbagai saluran komunikasi dia bungkam. Dia membiarkanku sendirian dlm lautan pertanyaan. Kebingungan. Kenapa kamu tidak menjadi cahaya penerangku? Petunjuk bagi biduk yg mulai putus asa mencari jalan pulang. Aku tidak tahu alasannya. Aku sungguh tak memiliki satu petunjuk pun untuk mengetahuinya. Sampai detik ini pun misteri itu menggelayuti pikiran dan keseharianku. Ku coba merenung. Mengingat-ingat apa saja yg telah aku lakukan. Aku khawatir ada celah menyakitkan yg terlewati yg membuatmu bersikap demikian. Aku terus menyelami memoriku sendiri. Terus menggali hingga hampir ke dasar hati. Aku tidak menghiraukan kalau itu menyiksa diri sendiri! Tidak, aku tidak peduli. Karena aku harus mengetahuinya. Aku harus memperoleh solusinya. Aku masih menyimpan harapan yg besar tentangnya. Aku harus bisa! Aku pasti bisa
Langganan:
Postingan (Atom)