Tampilkan postingan dengan label luka cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label luka cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 Desember 2009

Public Diary Page 5

Dear, PD. Ku coba mengobati luka ini sendirian. Luka yang begitu deras mengeluarkan darah kesedihan dan kekecewaan. Tidak ada yang peduli. Bahkan rembulan pun tidak muncul sekedar menyapa atau menampakkan diri. Seolah-olah aku ini sebatang pohon mati yang tak berarti lagi. Teronggok, melapuk dan mulai hancur digerus waktu. Ku tatap langit malam dan berbisik"inikah yang kau inginkan?" ku bisikkan sekali lagi sembari mengangkat kedua tanganku. Memperlihatkan sebentuk hati yang sakit. Terluka. Membusuk. Yang bagimu sudah tidak berarti lagi. Ku tatap langitmu. Ku bersimpuh dalam belas kasihanmu... Mengharap setitik perhatianmu.
Namun hanya kesunyian yang sayup-sayup menjawab keluh-kesahku. Hanya dinginnya malam yang membelai mesra setiap goresan luka di hatiku. Beginikah caramu memperlakukan hati yang tulus menyayangimu? Hati yang telah menunjukkan seluruh isinya. Hati yang meyakini bahwa kamulah belahan jiwanya. Hati yang lugu bahwa kamu tidak akan pernah menyakitinya.
Sungguh, aku tidak membencimu. Tak mungkin membenci sesuatu yang sangat aku cintai. Aku tidak tahu cara untuk membencimu. Bahkan bagaimana rasanyapun belum pernah terlintas dalam pikiranku. Yang ku tahu aku lemah karena tulusnya cintaku padamu. Mudah terluka. Walau terkadang kau melakukannya tanpa sengaja. Adakah niat darimu untuk berpaling padaku. Menampakkan cahaya cintamu lagi. Menerangi gelapnya harapan dan sunyinya kesendirian. Sudikah? Masih adakah?

Public Diary-Page 4

Dear, PD. Jawaban dari pertanyaan itu telah terkuak. Kedatangannya begitu cepat, tak terduga seperti hujan meteor yang merobek gelapnya misteri. Jelas sudah. Selesai semua. Tidak ada yang perlu dikonfirmasi. Semuanya sudah masuk akal. Terang benderang. Tidak perlu logika tingkat tinggi untuk memahaminya. Cukup diketahui. Tak perlu disesali. Semua adalah keputusannya. Tugasku hanya memotivasi dan meyakinkan saja. Aku tahu dia termotivasi. Aku yakin dia mempercayai lautan penjelasan yang telah aku tumpahkan. Aku berharap dia mau kembali menjadi dirinya sendiri. Pemberani dan kuat seperti yang aku kenali. Tidak perlu lari seperti ini. Jangan! Jangan kau teruskan. Berhentilah. Ku mohon berhentilah sekarang. Berilah kesempatan kepada hatimu untuk mengatur nafasnya. Biarkanlah pori-pori ketakutanmu mengeluarkan keringat kekhawatirannya. Habis tak bersisa. Tenangkanlah dirimu. Dengarkanlah irama jantungmu sendiri saat memompa sumber-sumber kehidupan. Istirahatkanlah kalbumu. Rebahkanlah semuanya di bawah pohon kedamaian beranting ketentraman yang rindang. Rasakanlah sejuknya udara hikmah. Nikmatilah rasa nyaman dari relaksasi otot-otot batin yg sempat kau paksa berkontraksi kuat. Tenangkanlah dirimu. Pejamkan mata batin prasangkamu. Pejamkanlah. Teruskanlah hingga sayap-sayap relaksasi menerbangkanmu jauh ke alam mimpi. Ke tempat di mana kau dapat menemui akal sehatmu. Sapalah dia, mintalah nasihatnya. Jangan mendebatnya. Tak perlu menyangkal penjelasan kebenaran yang tulus dia berikan. Tentang kebenaran dari semua yang telah aku ungkapkan. Kebenaran tentang apa yang kau rasakan. Dengarkan dia. Dan simpanlah semuanya dalam kotak memori. Tempat bersemayamnya segala cahaya yang dapat menerangimu dalam mengarungi belantara kehidupan. Jadikanlah itu ilmu. Jadikanlah semua itu pelajaran untuk menyikapiku ke depan.

Public Diary-Page 3

Dear, PD. Tahukah kamu sore tadi langitnya berwarna merah jingga. Indah sekali. Sewarna dengan training yang ku pakai setiap kali berolah raga. Sepertinya senyum mentari enggan meninggalkan peraduannya di langit senja. Tak tega meninggalkanku sendirian di bawah naungan malam yang aku benci. Dia tahu, rembulan tidak akan datang untuk ku. Menghiasi langit malamku dengan cahaya harapan. Tentang kebahagiaan.

Dan sekarang diriku terjebak rasa lelah yg menari-nari indah di sekelilingku. Mendendangkan lagu pegal dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Hentikanlah! Pergilah! Carilah tempat lain untuk berpesta. Hah.. Sepertinya pesta ini takkan berhenti hingga pagi. Oh... mentari cepatlah! cepatlah kau kembali.

Public Diary-Page 2

Dear, PD. Sulit tidur. Pikiranku seperti sayap kelelawar yg sedang menjelajahi belantara tanda tanya. Di hadapanku kini muncul pohon pertanyaan baru yang beranting sangat rindang. Dia mengingatkan tentang sebatang ranting yg mengisahkan dekatnya waktu. Oh... Untuk aku kah buah yg menggelayut di setiap pucuk-pucuknya? Apakah rasanya manis, semanis harapan yang menjadi kenyataan? Apakah aromanya tentang kebahagiaan seperti yang aku pikirkan? Apakah tentang... Hentikan! Hentikan! Cukup. Aku sudah terlalu dalam menggali sumur-sumur lamunan ini. Cukup. Semakin dalam aku berandai-andai tentang pertanyaan itu, semakin berat pula usahaku untuk keluar dari lubang pengap yg sarat akan impian kosong itu. Mengapakah tidak tidur saja. Membaringkan tubuh yg mulai layu, menyelimutinya dan memejamkan jendela dunia tanpa prasangka akan cepat-cepat terjaga. Bernafas perlahan. Teratur. Tertidur. Biarkan semuanya terlena dalam obat bius indahnya dunia mimpi beralaskan empuknya kasur

Public Diary Page 1

Dear, PD. Sampai sekarang aku tidak tahu latar belakang dari semuanya. Mengapa dia bersikap begitu padaku? Apa yg menjadi pertimbangannya melakukan itu? Apakah salahku? Ataukah dia sudah berubah? Entahlah. Yang ku tau dia diam dan tak memberiku kesempatan mengetahuinya. Aku perlu tau! Aku harus tau! Tapi bagaimana caranya? Berbagai saluran komunikasi dia bungkam. Dia membiarkanku sendirian dlm lautan pertanyaan. Kebingungan. Kenapa kamu tidak menjadi cahaya penerangku? Petunjuk bagi biduk yg mulai putus asa mencari jalan pulang. Aku tidak tahu alasannya. Aku sungguh tak memiliki satu petunjuk pun untuk mengetahuinya. Sampai detik ini pun misteri itu menggelayuti pikiran dan keseharianku. Ku coba merenung. Mengingat-ingat apa saja yg telah aku lakukan. Aku khawatir ada celah menyakitkan yg terlewati yg membuatmu bersikap demikian. Aku terus menyelami memoriku sendiri. Terus menggali hingga hampir ke dasar hati. Aku tidak menghiraukan kalau itu menyiksa diri sendiri! Tidak, aku tidak peduli. Karena aku harus mengetahuinya. Aku harus memperoleh solusinya. Aku masih menyimpan harapan yg besar tentangnya. Aku harus bisa! Aku pasti bisa

Puisi-Dear Someone

Ku hampiri pintumu kau membukanya tanpa sempat aku mengetuknya
Tampak tergesa menyambutku berlari kecil dengan perasaan suka cita
Kau peluk hatiku dengan senyuman penuh sesak rasa bahagia
Kau genggam tanganku menarikku masuk ke dalam sebuah istana
Aku takjub keindahan isinya tapi bagimu semua itu biasa saja

Wajahmu berseri-seri sambil bersenandung asa yang tidak ku mengerti
Mulut kecilmu membisikkan do'a untuk diriku dan seseorang yang kau cintai
Membelai sejuk kalbuku menikmati hidangan yang kau saji
Seperti samudera embun tercurah deras di pagi hari
Menyuburkan rasa cinta menyembuhkan luka menceriakan kembali

Kau hadapkan wajah tampanmu pada sekumpulan bejana bercahaya
Berselimutkan sapu tangan cahaya bersulamkan namaku di atasnya
Berkilauan menerangi istana taman bunga dan sekelilingnya
Sungguh terpesona hatiku pada kecantikan sebuah bejana
Terukir indah nama someone yang selama ini sangat kau cinta

Sinar matamu mengatakan dialah rembulan yang menerangimu dikegelapan
Senyum wajahmu menjelaskan dialah teman dalam pekatnya kesendirian
Sikap tubuhmu mengisyaratkan dalamnya kerinduan hangatnya pelukan
Detak jantungku meyakinkan begitu indah simpul hati mengikat kalian
Hati kecilku berguman andai aku bisa menjadi bagian

Puisi-Mengisi Kekosongan

Terjepit celah sempit antara harapan dan kenyataan
Terjebak ruang kosong sarat tanda tanya dan ketidakpastian
Redup menyala seperti kunang-kunang kebingungan digelapnya jawaban
Semakin tenggelam ditelan mega mendung dan derasnya hujan

Jagat raya kalbu yang membentang di relung hati
Berwarna-warni dihiasi gemintang yang menari-nari
Diiringi terang rembulan dan hangatnya belaian mentari
Tak berarti tanpa denyut kehidupan untuk saling mengisi

Puisi-Hujan

Lembutnya sentuhan disetiap tetesnya mengabarkan luka disuatu masa
Kilau bening yang dipantulkannya menerangi hati membentuk bayangan maya
Suara gemericik butiran mungilnya membisikkan sepi meramaikan mimpi
Hembusan hawa dinginnya menenggelamkan jiwa dalam selimut duka

Teriknya mentari di langit siang tak menghangatkan tak mencerahkan
Terangnya rembulan yang menyapa malam seperti angan-angan yang tak kunjung datang
Hanya mega berjelaga hitam dan tetesan dingin yang membekukan
Tak sanggup dihentikan bila telah tercurah tumpah ke permukaan

Puisi-Patah Hati

Perih menyakitkan karena aku pernah merasakan
Ditikam kekecewaan membentuk luka kesedihan mendalam
Siang dan petang laksana hukuman bagi hati dan perasaan
Tak sanggup lari karena semuanya telah terjadi

Bayangan duka menyeret jauh ke lautan lamunan
Sakit yang terasa memabukkan hati tak sadarkan diri
Mengais kebahagiaan berharap menemukan di kelabunya hati
Terus mencari tak menyadari sedang menyiksa diri sendiri

Bersenang-senang seolah sedang bercanda riang
Berbicara sendiri candu hati menipu diri
Terus berharap berdamai dengan waktu berputar kembali
Ke masa lalu ketika semuanya belum terjadi

Puisi-Bertepuk Sebelah Tangan

Ku buatkan prasasti untuk mengenang dirimu
Sosok yang tangguh tak seperti diriku
Mampu berselancar diganasnya gelombang
Sanggup menyelam di ke dalaman lautan

Hanya orang-orang kuat yang melakukan hal-hal hebat
Itulah dirimu dalam perspektif luguku
Ku mengagumimu walau tidak pernah bertemu
Kau adalah model yang patut aku tiru

Ada satu pesan yang ingin aku sampaikan
Genggam masa lalumu kejarlah sekarang!
Ia menunggumu menjemputmu untuk datang
Aku meyakininya karena aku merasakannya

Jadikan liburan sebagai momentum terbaikmu
Hubungi segera ajaklah dia bertemu
Dia menunggumu dan akan selalu begitu
Salamku untukmu dan untuk belahan jiwamu

Puisi-Kau Datang lagi

Tak pernah ku sangka kau akan kembali lagi
Seperti yang pertama kau datang melalui mimpi
Sungguh aku tak menyadari bahwa itu dirimu
Aku malah ketawa-ketiwi hingga Tuhan mengilhamkan sesuatu

Selepas shalat Ashar aku banyak diam termangu
Hingga maghrib tiba sisi hatiku terasa ngilu
Pantas sulit makan memang bukan itu yang aku butuhkan
Aku harus merenungkan kedatanganmu tadi siang

Sekarang aku sedih saat mengenangmu menangis
Kau datang dengan misi hanya untuk menasehati
Wahai Tuhan Yang Maha Mulia sungguh menyesal karenanya
Karena terlalu banyak lupa hingga Kau mengutusnya

Ku lihat dalam mimpi kau menangis kemudian berlari
Ku tak mengenali entah mengapa aku datang menghampiri
Ku peluk erat dirimu karena iba dalam hati
Hingga kau katakan sesuatu bahwa aku melupakanmu

Entah mengapa saat itu mulutku berkata
Kamu adalah segalanya dan tak ada bandingannya
Tapi kau menyelanya seraya menunjuk seorang wanita
Bukankah dia pujaanku yang selama ini ku cinta

Dalam tangismu kau bisikkan sesuatu
Di balik bening air matamu kamu menasihatiku
Untuk meluruskan niatku memperbaiki ibadahku
Ku peluk erat dirimu ku kan berubah ku janjikan itu

Kau tatap mataku dapat ku lihat dengan jelas
Tatapan sarat rindu yang mengalir dengan deras
Kau hembuskan sesuatu yang menyejukkan kalbuku
Kau meyakinkan aku untuk menggiatkan ibadahku

Kedatanganmu kali ini sungguh sangat ku sadari
Kelalaian yang terjadi tak kan pernah ku ulangi
Menyia-nyiakan waktu meninggalkan ibadahku
Karena tujuan hidupku hanya tertuju untuk Tuhanku

Kini kau kembali ke Illahi Rabbi
Ditempat yang tersembunyi di luar bayangan imajinasi
Tak ada orang yang tahu seperti apa rupa cantikmu
Hanya aku yang tahu karena kaulah milikku

Puisi-It's Complicated

Berbelit-belit seperti benang kusut membentuk simpul rumit
Berputar-putar kebingungan mencari jalan keluar
Timbul tenggelam kemudian kelelahan ditelan angan-angan
Melayang-layang tak menyadari sedang menggali kuburnya sendiri

Tertipu ego sendiri tentang kebahagiaan yang abadi
Bermimpi membangun istana berhiaskan intan dan permata
Berkhayal tentang cinta yang mampu menaklukan badai dan petir yang membahana
Tersenyum sendiri sepertinya itulah realita yang terjadi

Serapuh sayap kupu-kupu selembut belaian bulu
Pantulan warna. Tak bermakna. Tak berdaya
Hanya kepakan kata atau dengungan ucapan sapa
Tak memiliki arti saat terjebak dimalam yang sunyi... sepi... sendiri...

Puisi-Menyendiri

Tak ada yang tahu apa yang sedang ku lakukan
Yang mereka tahu aku jarang muncul ke permukaan
Tahukah kamu mengapa aku senang melakukannya?
Pernahkah kamu berusaha untuk mempertanyakannya?

Dengarkan aku dan pahami penjelasannya
Tak ada masalah yang sedang membelenggu kita
Semua baik-baik saja semua seperti biasanya
Tak perlu khawatir atau bersedih karenanya

Hanya itu penjelasanku kepada dirimu
Sedangkan yang lainnya semuanya untukku
Ingin aku berbagi dan bercerita kepadamu
Betapa ajaibnya perasaan yang mengelilingiku

Aku sadari dan sangat aku pahami
Sikap diamku menyakiti orang-orang di sekelilingku
Perbuatan menyendiri dan mengunci pintu kamarku
Menenangkan diri dan mencoba mencari solusi

Andai kamu tahu dan memahami kondisiku
Akan aku bisikkan sesuatu kepada hatimu
Sayang temani aku dan tolonglah aku
Kalimat sederhanamu selalu spesial bagiku

Kamu memotivasi dan memberiku solusi
Jiwaku tenang dan selalu tersugesti
Entah mengapa tak tahu aku alasannya
Inilah kehendak-Nya tak bisa ku menolaknya