Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Mei 2012
Akhir Kisah Kita
Ku isi perang dingin ini dengan sunyi
Berusaha menahan pelatuk amunisi emosi
Dengan segenap kesabaran yang tersisa
Agar tidak meledak mesiu angkara murka
Hanya akan menghitamkan laras hati yang tersakiti
Ku berusaha…
Dan ku tak mengharap kau melakukan hal serupa
Karena ini pilihanku….
Lakukan saja yang kau mau
Ku kira tak akan merubah akhir kisah kita
Sabtu, 05 Mei 2012
Merapuh Rindu
Gemerisik hujan tadi malam
Membuatku gelisah
Pasrah… dibalik selimut ketidakberdayaan jiwa
Yang begitu erat memeluk rapuhku yang merindu
Tentang seberkas asa yang dicoretkan bintang kejora
Ku sapa lelap langitmu…
Sembari memperlihatkan segenggam hati yang sakit
Terluka… Yang begitu deras meneteskan darah merahnya
Perlahan-lahan… irama denyutnya kian mereda
Terombang-ambing gelombang sunyi
Yang tampaknya belum akan menepi
Membuatku gelisah
Pasrah… dibalik selimut ketidakberdayaan jiwa
Yang begitu erat memeluk rapuhku yang merindu
Tentang seberkas asa yang dicoretkan bintang kejora
Ku sapa lelap langitmu…
Sembari memperlihatkan segenggam hati yang sakit
Terluka… Yang begitu deras meneteskan darah merahnya
Perlahan-lahan… irama denyutnya kian mereda
Terombang-ambing gelombang sunyi
Yang tampaknya belum akan menepi
Rabu, 02 Mei 2012
Malamku
Ku kayuh sampan malam
Membelah samudera rindu
Bergemericik buih-buih imajinasi
Liar bekejaran di lipatan riak waktu
Untuk pasrah berletupan
Disenyap pasir pantai
Pulau-pulau tak berpenghuni
Selasa, 01 Mei 2012
Isi Sunyi
Rembulan pun temaram dalam diam
Terbelenggu teralis awan berlapis
Di takberhingga isi sunyi…
Berkeluh tentang malam yang semakin tenggelam
Lirih… mengais mimpi…
Di reruntuhan pusara… gulita
Minggu, 15 April 2012
Menenggelamkan Rasa
Menenggelamkan Rasa
Hingga ke pusat hilang ingatan
Jauh....
Sejauh kebahagiaan yang luput ku genggam
Kini perlahan menghilang.... Sirna....
Ditelan gelombang kecewa yang mendera
Bertubi-tubi....
Seolah tak peduli dengan rintihan berhenti
Aku rapuh bersimpuh di dasar jurang luka
Menangisi impian di depan altar kehampaan
Menelantarkan pecinta dengan beban duka
Dalam kesendirian....
Di balik labirin kegelapan harapan
Yang terasa semakin menyakitkan
Seiring rasa yang tak kunjung tenggelam
Kamis, 12 April 2012
Curahan Jiwa Terluka
Air mata yang luruh
Bukanlah reruntuhan dari asa yang rapuh
Bukan pula kelemahan yang menenggelamkan
Tapi curahan jiwa-jiwa terluka
Yang sedang berjuang menahan rasa sakitnya
Maka biarlah…
Hujan tertumpah hingga membanjiri gurun lara
Menggenanginya…
Hingga tak bersisa awan-awan duka
Tanyaku pada Aprodite
Mengapa baru sekarang kau ketuk-ketuk rongga kalbu
Disaat ketidakmungkinan merupakan kepastian
Mengapa kau memberkahi dua jiwa
Dengan satu asa yang tak mungkin diwujudkan
Sungguh menyedihkan... Terlalu menyakitkan
Kau membuatku mempertanyakan kembali
Coretan tinta emas para pujangga cinta
Yang teramat tulus...
Meyakini kemurnian jiwa para pecinta
Mereka yang rela memberikan bagian terapuhnya
Untuk dibaptis lautan bara
Demi mempertahankan simpul asa dua jiwa
Haruskah ku hancurkan saja asa yang kau titipkan
Hingga berguguran seluruh inginku tentangnya
Selasa, 29 Desember 2009
Puisi-Patah Hati
Perih menyakitkan karena aku pernah merasakan
Ditikam kekecewaan membentuk luka kesedihan mendalam
Siang dan petang laksana hukuman bagi hati dan perasaan
Tak sanggup lari karena semuanya telah terjadi
Bayangan duka menyeret jauh ke lautan lamunan
Sakit yang terasa memabukkan hati tak sadarkan diri
Mengais kebahagiaan berharap menemukan di kelabunya hati
Terus mencari tak menyadari sedang menyiksa diri sendiri
Bersenang-senang seolah sedang bercanda riang
Berbicara sendiri candu hati menipu diri
Terus berharap berdamai dengan waktu berputar kembali
Ke masa lalu ketika semuanya belum terjadi
Ditikam kekecewaan membentuk luka kesedihan mendalam
Siang dan petang laksana hukuman bagi hati dan perasaan
Tak sanggup lari karena semuanya telah terjadi
Bayangan duka menyeret jauh ke lautan lamunan
Sakit yang terasa memabukkan hati tak sadarkan diri
Mengais kebahagiaan berharap menemukan di kelabunya hati
Terus mencari tak menyadari sedang menyiksa diri sendiri
Bersenang-senang seolah sedang bercanda riang
Berbicara sendiri candu hati menipu diri
Terus berharap berdamai dengan waktu berputar kembali
Ke masa lalu ketika semuanya belum terjadi
Langganan:
Postingan (Atom)