Minggu, 15 April 2012
Menenggelamkan Rasa
Menenggelamkan Rasa
Hingga ke pusat hilang ingatan
Jauh....
Sejauh kebahagiaan yang luput ku genggam
Kini perlahan menghilang.... Sirna....
Ditelan gelombang kecewa yang mendera
Bertubi-tubi....
Seolah tak peduli dengan rintihan berhenti
Aku rapuh bersimpuh di dasar jurang luka
Menangisi impian di depan altar kehampaan
Menelantarkan pecinta dengan beban duka
Dalam kesendirian....
Di balik labirin kegelapan harapan
Yang terasa semakin menyakitkan
Seiring rasa yang tak kunjung tenggelam
Kamis, 12 April 2012
Curahan Jiwa Terluka
Air mata yang luruh
Bukanlah reruntuhan dari asa yang rapuh
Bukan pula kelemahan yang menenggelamkan
Tapi curahan jiwa-jiwa terluka
Yang sedang berjuang menahan rasa sakitnya
Maka biarlah…
Hujan tertumpah hingga membanjiri gurun lara
Menggenanginya…
Hingga tak bersisa awan-awan duka
Tanyaku pada Aprodite
Mengapa baru sekarang kau ketuk-ketuk rongga kalbu
Disaat ketidakmungkinan merupakan kepastian
Mengapa kau memberkahi dua jiwa
Dengan satu asa yang tak mungkin diwujudkan
Sungguh menyedihkan... Terlalu menyakitkan
Kau membuatku mempertanyakan kembali
Coretan tinta emas para pujangga cinta
Yang teramat tulus...
Meyakini kemurnian jiwa para pecinta
Mereka yang rela memberikan bagian terapuhnya
Untuk dibaptis lautan bara
Demi mempertahankan simpul asa dua jiwa
Haruskah ku hancurkan saja asa yang kau titipkan
Hingga berguguran seluruh inginku tentangnya
Senin, 09 April 2012
Ingin Mati Rasa
Antarkan jiwaku ke lelapnya peraduan rindu
Sekedar menyapa mimpi... Mimpi
Tentang tepi... Yang kejam menyiksa saat terjaga
Bantu aku... Terbangkan sayap-sayap patahku...
Menjauh... Sangat jauh... Terjauh
Hingga tersesat dan tak mungkin menemukan jalan kembali
Meninggalkan jejak-jejak maya
Kenangan... Yang hanya membuatku terluka
Biarkan aku amnesia... Hingga mati rasa
Walau itu berarti kehilangan satu cahaya jiwa
Untuk selamanya...
Sekedar menyapa mimpi... Mimpi
Tentang tepi... Yang kejam menyiksa saat terjaga
Bantu aku... Terbangkan sayap-sayap patahku...
Menjauh... Sangat jauh... Terjauh
Hingga tersesat dan tak mungkin menemukan jalan kembali
Meninggalkan jejak-jejak maya
Kenangan... Yang hanya membuatku terluka
Biarkan aku amnesia... Hingga mati rasa
Walau itu berarti kehilangan satu cahaya jiwa
Untuk selamanya...
Sabtu, 07 April 2012
Gempita Asa
Ufuk senja pun merona disapa jingga sang surya
Seusai gerimis menggugurkan mega penantian
Membias tipis di warna-warni kalung pelangi
Merekah gaun awan putihnya dibuai sepoi utara
Di gelora samudera rindu akhirnya kau labuhkan
Sebait janji suci tertanda dari cinta sejati
Penawar lara dua jiwa yang lama didera masa
Untuk menjadi esa tak terpisahkan selamanya
*Untuk kartu undangan pernikahan Desny Maulida Irawan d(^,^)b
Kamis, 05 April 2012
Senja Jumpa
Ku penuhi deru rindu ombakmu
Di peraduan surya
Berselimut lembut ombak biru laut
Bertirai sutra bercorak putih jingga
Ku terdiam di garis akhir labuhan gelombang
Ujung petualangan buih-buih angan yang berletupan
Awal perjumpaan...
Di senja pantai samudera Hindia
Melarutkan asa disapuan gelora pesona
*Senja di Pangandaran, Senin 27 Juni 2011
Rabu, 04 April 2012
Penantianku
Ku tunggu
Di hulu rindu janji temu
Selalu ku tunggu
Hingga tepi batas waktu
Walau ragu sesaki jejak penantianku
Setia menunggu
Hingga tunai asa rindu
Di hulu rindu janji temu
Selalu ku tunggu
Hingga tepi batas waktu
Walau ragu sesaki jejak penantianku
Setia menunggu
Hingga tunai asa rindu
Dermaga Dua Jiwa
Jejak bidadari yang melukis selepas gerimis
Di langit senja sesaat sebelum lelap sang surya
Mengabarkan mimpi tentang tepi samudera sepi
Menerbangkan angan bergelantungan di awan harapan
Dikejauhan cahaya suar tampak seperti kunang-kunang
Redup-menyala mengundang biduk realita cita
Perlahan datang layar terkembang keinginan
Melabuhkan asa di dermaga dua jiwa
Di langit senja sesaat sebelum lelap sang surya
Mengabarkan mimpi tentang tepi samudera sepi
Menerbangkan angan bergelantungan di awan harapan
Dikejauhan cahaya suar tampak seperti kunang-kunang
Redup-menyala mengundang biduk realita cita
Perlahan datang layar terkembang keinginan
Melabuhkan asa di dermaga dua jiwa
Selasa, 03 April 2012
Ketika Asa Menyapa
Tertegun ngilu di satu sudut kerling cantikmu
Menahan asa hingga menyesakkan rongga dada
Sakit terasa tapi bukan karena terluka
Rasa bahagia yang tak terjelaskan penyebabnya
Ku coba menangkap kemilau yang kau pantulkan
Laksana bunga matahari yang sedang mengejar cahaya pagi
Walau berat tapi tak kuasa dengan pilihan yang telah aku tetapkan
Inginku memiliki karena kaulah mimpi terbaik dalam hidup ini
*Jum'at Sore, 10 Juni 2011
Parthere Isola, Universitas Pendidikan Indonesia
Berharap Ditemukan
Tak ada yang bisa memastikan
Kepingan terbaik bagi suatu kehidupan
Terlalu luas jagat raya pencarian
Terlalu dalam lautan keinginan
Karena cinta sejati tidak bisa ditemukan
Tetapi dialah yang akan menemukan
Maka nyalakanlah suar tanda
Untuk menyambut dari takberhingga
Kemungkinan arah datangnya
Light On
Kelirukah aku bila mengisyaratkan sesuatu
Tentang denyut rindu
Yang meramaikan rongga kalbu
Lama terlupakan ditelan arus deras kehidupan
Kembali ditemukan
Untuk mengisi kekosongan
Bila cahaya suarku
Menerangi biduk hatimu
Mengundang datang menambatkannya ke tepian
Menjauhkanmu...
Dari gelombang ketidakpastian
Mempertemukan kita ditepi pantai penantian
Tentang denyut rindu
Yang meramaikan rongga kalbu
Lama terlupakan ditelan arus deras kehidupan
Kembali ditemukan
Untuk mengisi kekosongan
Bila cahaya suarku
Menerangi biduk hatimu
Mengundang datang menambatkannya ke tepian
Menjauhkanmu...
Dari gelombang ketidakpastian
Mempertemukan kita ditepi pantai penantian
Remaja
Ku gantungkan khawatirku pada awan-awan putih
Berharap turun hujan...
Di taman kuncup-kuncup bunga
Yang sedang belajar membuka kelopak hatinya
Namun harapku...
Kelopak itu tetap menguncup
Hingga hari berganti musim semi
Ketika cinta sejati Bermekaran di taman hati
*Untuk Marbella Akhmad :)
Berharap turun hujan...
Di taman kuncup-kuncup bunga
Yang sedang belajar membuka kelopak hatinya
Namun harapku...
Kelopak itu tetap menguncup
Hingga hari berganti musim semi
Ketika cinta sejati Bermekaran di taman hati
*Untuk Marbella Akhmad :)
Senin, 02 April 2012
Puisi - Kangen
Biasanya… langit malamku dipenuhi coretan bintang-bintang jatuh…
Tapi beberapa malam ini…
Gemerlap itu tak pernah lagi ku temui…
Ada segenggam khawatir yang dihembuskan angin malam
Apakah kau sedang berada di tempat yang sangat jauh…
Ataukah sesuatu tengah menimpamu…
Ku harap itu hanya olok-olok iblis yang biasa diludahkan kepada manusia…
Melemahkan… Hanya membuatku pandai berburuk sangka
Tapi derasnya arus tanda-tanya
Membuatku tak berdaya untuk melawannya
Menggulung akal sehatku dalam gelombang angan-angan tak beralasan
Hingga akhirnya tenggelam di genangan kegelisahan
Ku bertanya pada malam… Di manakah juwita yang selalu setia memancarkan sapanya
Ku bertanya pada rembulan… Apakah dia sedang melihatmu sejelas aku menatapmu
Ku berbisik pada angin malam… Sampaikan rinduku dari sudut terdalam relung kalbu
Hingga dia tahu dan meluruhkan kemilaunya lagi
Melukis gelapnya kanvas malam
Mengoyak tirai-tirai kesunyian
Hingga berdenyut kembali gelora rongga dada
Melepas dahaga dua jiwa yang lama tak bersua
*Untuk Melissa Gumantiny :D
Tapi beberapa malam ini…
Gemerlap itu tak pernah lagi ku temui…
Ada segenggam khawatir yang dihembuskan angin malam
Apakah kau sedang berada di tempat yang sangat jauh…
Ataukah sesuatu tengah menimpamu…
Ku harap itu hanya olok-olok iblis yang biasa diludahkan kepada manusia…
Melemahkan… Hanya membuatku pandai berburuk sangka
Tapi derasnya arus tanda-tanya
Membuatku tak berdaya untuk melawannya
Menggulung akal sehatku dalam gelombang angan-angan tak beralasan
Hingga akhirnya tenggelam di genangan kegelisahan
Ku bertanya pada malam… Di manakah juwita yang selalu setia memancarkan sapanya
Ku bertanya pada rembulan… Apakah dia sedang melihatmu sejelas aku menatapmu
Ku berbisik pada angin malam… Sampaikan rinduku dari sudut terdalam relung kalbu
Hingga dia tahu dan meluruhkan kemilaunya lagi
Melukis gelapnya kanvas malam
Mengoyak tirai-tirai kesunyian
Hingga berdenyut kembali gelora rongga dada
Melepas dahaga dua jiwa yang lama tak bersua
*Untuk Melissa Gumantiny :D
Minggu, 01 April 2012
Puisi - Sayap-sayap Cinta
Tahukah… Hatiku terluka…
Mengetahui kau bersedih di sana
Membayangkan tulusnya hati yang tersakiti
Sendirian… Bersimbah kristal suci di kedua lembah pipi
Kan ku bentangkan sayap-sayap cinta
Untuk kuselipkan beribu pedang di selanya
Dan biarkan aku memelukmu
Untuk membunuh rasa sakit di rongga dadamu
Menghisap darah lara hingga sirna tak bersisa
Menyembuhkan luka-luka cinta
Di balik sulam kasih sayang yang ku jahitkan
Hingga menguat kembali sayap-sayap patahmu
Untuk mengangkasa bersama sayap-sayap cintaku
Menjelajahi jagat raya kemungkinan
Mendulang gemintang impian
Mengetahui kau bersedih di sana
Membayangkan tulusnya hati yang tersakiti
Sendirian… Bersimbah kristal suci di kedua lembah pipi
Kan ku bentangkan sayap-sayap cinta
Untuk kuselipkan beribu pedang di selanya
Dan biarkan aku memelukmu
Untuk membunuh rasa sakit di rongga dadamu
Menghisap darah lara hingga sirna tak bersisa
Menyembuhkan luka-luka cinta
Di balik sulam kasih sayang yang ku jahitkan
Hingga menguat kembali sayap-sayap patahmu
Untuk mengangkasa bersama sayap-sayap cintaku
Menjelajahi jagat raya kemungkinan
Mendulang gemintang impian
Selasa, 29 Desember 2009
Public Diary Page 5
Dear, PD. Ku coba mengobati luka ini sendirian. Luka yang begitu deras mengeluarkan darah kesedihan dan kekecewaan. Tidak ada yang peduli. Bahkan rembulan pun tidak muncul sekedar menyapa atau menampakkan diri. Seolah-olah aku ini sebatang pohon mati yang tak berarti lagi. Teronggok, melapuk dan mulai hancur digerus waktu. Ku tatap langit malam dan berbisik"inikah yang kau inginkan?" ku bisikkan sekali lagi sembari mengangkat kedua tanganku. Memperlihatkan sebentuk hati yang sakit. Terluka. Membusuk. Yang bagimu sudah tidak berarti lagi. Ku tatap langitmu. Ku bersimpuh dalam belas kasihanmu... Mengharap setitik perhatianmu.
Namun hanya kesunyian yang sayup-sayup menjawab keluh-kesahku. Hanya dinginnya malam yang membelai mesra setiap goresan luka di hatiku. Beginikah caramu memperlakukan hati yang tulus menyayangimu? Hati yang telah menunjukkan seluruh isinya. Hati yang meyakini bahwa kamulah belahan jiwanya. Hati yang lugu bahwa kamu tidak akan pernah menyakitinya.
Sungguh, aku tidak membencimu. Tak mungkin membenci sesuatu yang sangat aku cintai. Aku tidak tahu cara untuk membencimu. Bahkan bagaimana rasanyapun belum pernah terlintas dalam pikiranku. Yang ku tahu aku lemah karena tulusnya cintaku padamu. Mudah terluka. Walau terkadang kau melakukannya tanpa sengaja. Adakah niat darimu untuk berpaling padaku. Menampakkan cahaya cintamu lagi. Menerangi gelapnya harapan dan sunyinya kesendirian. Sudikah? Masih adakah?
Namun hanya kesunyian yang sayup-sayup menjawab keluh-kesahku. Hanya dinginnya malam yang membelai mesra setiap goresan luka di hatiku. Beginikah caramu memperlakukan hati yang tulus menyayangimu? Hati yang telah menunjukkan seluruh isinya. Hati yang meyakini bahwa kamulah belahan jiwanya. Hati yang lugu bahwa kamu tidak akan pernah menyakitinya.
Sungguh, aku tidak membencimu. Tak mungkin membenci sesuatu yang sangat aku cintai. Aku tidak tahu cara untuk membencimu. Bahkan bagaimana rasanyapun belum pernah terlintas dalam pikiranku. Yang ku tahu aku lemah karena tulusnya cintaku padamu. Mudah terluka. Walau terkadang kau melakukannya tanpa sengaja. Adakah niat darimu untuk berpaling padaku. Menampakkan cahaya cintamu lagi. Menerangi gelapnya harapan dan sunyinya kesendirian. Sudikah? Masih adakah?
Public Diary-Page 4
Dear, PD. Jawaban dari pertanyaan itu telah terkuak. Kedatangannya begitu cepat, tak terduga seperti hujan meteor yang merobek gelapnya misteri. Jelas sudah. Selesai semua. Tidak ada yang perlu dikonfirmasi. Semuanya sudah masuk akal. Terang benderang. Tidak perlu logika tingkat tinggi untuk memahaminya. Cukup diketahui. Tak perlu disesali. Semua adalah keputusannya. Tugasku hanya memotivasi dan meyakinkan saja. Aku tahu dia termotivasi. Aku yakin dia mempercayai lautan penjelasan yang telah aku tumpahkan. Aku berharap dia mau kembali menjadi dirinya sendiri. Pemberani dan kuat seperti yang aku kenali. Tidak perlu lari seperti ini. Jangan! Jangan kau teruskan. Berhentilah. Ku mohon berhentilah sekarang. Berilah kesempatan kepada hatimu untuk mengatur nafasnya. Biarkanlah pori-pori ketakutanmu mengeluarkan keringat kekhawatirannya. Habis tak bersisa. Tenangkanlah dirimu. Dengarkanlah irama jantungmu sendiri saat memompa sumber-sumber kehidupan. Istirahatkanlah kalbumu. Rebahkanlah semuanya di bawah pohon kedamaian beranting ketentraman yang rindang. Rasakanlah sejuknya udara hikmah. Nikmatilah rasa nyaman dari relaksasi otot-otot batin yg sempat kau paksa berkontraksi kuat. Tenangkanlah dirimu. Pejamkan mata batin prasangkamu. Pejamkanlah. Teruskanlah hingga sayap-sayap relaksasi menerbangkanmu jauh ke alam mimpi. Ke tempat di mana kau dapat menemui akal sehatmu. Sapalah dia, mintalah nasihatnya. Jangan mendebatnya. Tak perlu menyangkal penjelasan kebenaran yang tulus dia berikan. Tentang kebenaran dari semua yang telah aku ungkapkan. Kebenaran tentang apa yang kau rasakan. Dengarkan dia. Dan simpanlah semuanya dalam kotak memori. Tempat bersemayamnya segala cahaya yang dapat menerangimu dalam mengarungi belantara kehidupan. Jadikanlah itu ilmu. Jadikanlah semua itu pelajaran untuk menyikapiku ke depan.
Public Diary-Page 3
Dear, PD. Tahukah kamu sore tadi langitnya berwarna merah jingga. Indah sekali. Sewarna dengan training yang ku pakai setiap kali berolah raga. Sepertinya senyum mentari enggan meninggalkan peraduannya di langit senja. Tak tega meninggalkanku sendirian di bawah naungan malam yang aku benci. Dia tahu, rembulan tidak akan datang untuk ku. Menghiasi langit malamku dengan cahaya harapan. Tentang kebahagiaan.
Dan sekarang diriku terjebak rasa lelah yg menari-nari indah di sekelilingku. Mendendangkan lagu pegal dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Hentikanlah! Pergilah! Carilah tempat lain untuk berpesta. Hah.. Sepertinya pesta ini takkan berhenti hingga pagi. Oh... mentari cepatlah! cepatlah kau kembali.
Dan sekarang diriku terjebak rasa lelah yg menari-nari indah di sekelilingku. Mendendangkan lagu pegal dan rasa sakit di sekujur tubuhku. Hentikanlah! Pergilah! Carilah tempat lain untuk berpesta. Hah.. Sepertinya pesta ini takkan berhenti hingga pagi. Oh... mentari cepatlah! cepatlah kau kembali.
Public Diary-Page 2
Dear, PD. Sulit tidur. Pikiranku seperti sayap kelelawar yg sedang menjelajahi belantara tanda tanya. Di hadapanku kini muncul pohon pertanyaan baru yang beranting sangat rindang. Dia mengingatkan tentang sebatang ranting yg mengisahkan dekatnya waktu. Oh... Untuk aku kah buah yg menggelayut di setiap pucuk-pucuknya? Apakah rasanya manis, semanis harapan yang menjadi kenyataan? Apakah aromanya tentang kebahagiaan seperti yang aku pikirkan? Apakah tentang... Hentikan! Hentikan! Cukup. Aku sudah terlalu dalam menggali sumur-sumur lamunan ini. Cukup. Semakin dalam aku berandai-andai tentang pertanyaan itu, semakin berat pula usahaku untuk keluar dari lubang pengap yg sarat akan impian kosong itu. Mengapakah tidak tidur saja. Membaringkan tubuh yg mulai layu, menyelimutinya dan memejamkan jendela dunia tanpa prasangka akan cepat-cepat terjaga. Bernafas perlahan. Teratur. Tertidur. Biarkan semuanya terlena dalam obat bius indahnya dunia mimpi beralaskan empuknya kasur
Public Diary Page 1
Dear, PD. Sampai sekarang aku tidak tahu latar belakang dari semuanya. Mengapa dia bersikap begitu padaku? Apa yg menjadi pertimbangannya melakukan itu? Apakah salahku? Ataukah dia sudah berubah? Entahlah. Yang ku tau dia diam dan tak memberiku kesempatan mengetahuinya. Aku perlu tau! Aku harus tau! Tapi bagaimana caranya? Berbagai saluran komunikasi dia bungkam. Dia membiarkanku sendirian dlm lautan pertanyaan. Kebingungan. Kenapa kamu tidak menjadi cahaya penerangku? Petunjuk bagi biduk yg mulai putus asa mencari jalan pulang. Aku tidak tahu alasannya. Aku sungguh tak memiliki satu petunjuk pun untuk mengetahuinya. Sampai detik ini pun misteri itu menggelayuti pikiran dan keseharianku. Ku coba merenung. Mengingat-ingat apa saja yg telah aku lakukan. Aku khawatir ada celah menyakitkan yg terlewati yg membuatmu bersikap demikian. Aku terus menyelami memoriku sendiri. Terus menggali hingga hampir ke dasar hati. Aku tidak menghiraukan kalau itu menyiksa diri sendiri! Tidak, aku tidak peduli. Karena aku harus mengetahuinya. Aku harus memperoleh solusinya. Aku masih menyimpan harapan yg besar tentangnya. Aku harus bisa! Aku pasti bisa
Puisi-Inikah Pertanda
Saat pertama kali bertemu terasa kuat hentakannya
Semakin hebat getarannya saat memberanikan diri untuk menyapa
Kau sebutkan satu nama yang membuat hatiku berbunga-bunga
Semakin merekah kelopaknya dalam balutan canda ceria
Tidak ada yang salah dihari perkenalan kita
Terasa begitu sempurna mengalir lancar apa adanya
Biasakah perasaan yang kurasa? Tapi mengapa sulit ku lupa
Adakah sesuatu yang istimewa? Atau benarkah ini hanya perasaanku saja
Semakin hebat getarannya saat memberanikan diri untuk menyapa
Kau sebutkan satu nama yang membuat hatiku berbunga-bunga
Semakin merekah kelopaknya dalam balutan canda ceria
Tidak ada yang salah dihari perkenalan kita
Terasa begitu sempurna mengalir lancar apa adanya
Biasakah perasaan yang kurasa? Tapi mengapa sulit ku lupa
Adakah sesuatu yang istimewa? Atau benarkah ini hanya perasaanku saja
Langganan:
Postingan (Atom)